Tinggalkan komentar

Ketika Nusyuz Dan Bersengketa Dalam Rumah Tangga

Seorang suami memiliki peran dan fungsinya sebagai kepala keluarga. Fungsi sebagai kepala keluarga ini diperolehnya sebagai konsekuensi karena dialah yang mempersiapkan, membina, meletakkan rumah tangga itu dalam kehidupan,  membayar mahar dan memberi nafkah.

Seorang istri juga mempunyai kewajiban yang telah ditentukan menurut aturan agama. Seorang istri tidak diperkenankan berlaku durhaka (nusyuz) terhadap suami. Ketika seorang istri berlaku durhaka terhadap suami, maka persekutuan agung yang telah diikatnya (baca : pernikahan) akan rusak, bahtera rumah tangga akan gonjang, atau bahkan mungkin terdampar dan tenggelam, selama suami sebagai sang nahkoda tidak lagi ditaati.

Ketika seorang suami mendapati pada istrinya tanda – tanda nusyuz (durhaka) dan menentangnya, hendaklah suami harus mengadakan ishlah (perbaikan) dengan sekuat tenaga, diawali dengan kata – kata yang baik, nasihat yang berkesan dan bimbingan yang bijaksana.

Apabila langkah pertama dengan nasihat dan kata – kata yang baik tidak manjur, Islam membolehkan suami meninggalkan istrinya  di tempat tidur sendiri, sebagai usaha agar instink kewanitaannya itu dapat diajak berdialog. Kiranya dengan demikian itu akan muncul kembali kesadaran dan kejernihannya dalam berpikir dan introspeksi diri.

Bagaimana dengan memukul istri yang menentang, bolehkah..?

Memukul/ menggunakan tangan untuk menyadarkan istri yang durhaka/menentang terhadap suami hanya boleh dicoba apabila langkah pertama dengan memberi nasihat dan langkah kedua meninggalkan istri di tempat tidur sendirian sudah tidak berguna. Tetapi harus dijauhi pukulan yang berbahaya dan jangan memukul muka. Pada sebagian wanita dalam beberapa hal pada saat – saat tertentu cara ini bisa efektif. Meskipun dibolehkan, akan tetapi Nabi Muhammad tidak menyukai laki – laki yang suka memukul istrinya.
Dalam satu hadist yang diriwayatkan Ahmad (dan dalam riwayat Bukhari ada hadist yang mirip dengan itu) Nabi bersabda, (yang artinya) :
Mengapa salah seorang di antara kamu suka memukul istrinya seperti memukul seorang budak, padahal mungkin ia akan menyetubuhinya di lain hari ? “

Terhadap suami yang suka memukul istrinya ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan : “Kalian tidak akan menjumpai mereka itu sebagai orang yang baik di antara kalian.”
Ibnu Hajar berkata; “Dalam sabda Nabi yang mengatakan “orang-orang yang baik diantara kalian tidak akan memukul” itu menunjukkan bahwa secara garis besar memukul hanya dibenarkan dengan motif mendidik.

Apabila langkah – langkah seperti yang tersebut di atas tidak berhasil dan dikhawatirkan akan meluasnya persengketaan antara suami istri, maka masyarakat Islam dan para cerdik pandai harus turut campur untuk mengislahkannya. Perihal langkah – langkah tepat untuk menyelesaikan nusyuz dan sengketa ini, Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberikan bimbingan-Nya dalam Al Qur’an, surah An Nisaa’ :34-35, yang artinya :
Dan perempuan-perempuan yang kalian nusyuznya, maka nasihatilah mereka itu, dan tinggalkanlah mereka di tempat tidur dan pukullah. Apabila mereka sudah taat kepadamu, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menceraikan mereka, karena sesungguhnya Allah Mahatinggi dan Mahabesar. Dan jika kalian merasa khawatir akan terjadinya perselisihan antara mereka berdua, maka utuslah hakam dari keluarga laki – laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Apabila mereka berdua menghendaki ishlah, maka Allah akan memberi taufiq antara keduanya; sesungguhnya Allah Mahatinggi dan Mahamengetahui.”

Wallahu A’lamu bish-shawaab……

Tinggalkan komentar

Arti dan Hikmah Silaturrahim

Pengertian

Silaturrahim berasal dari bahasa Arab ‘shillah” yang berarti hubungan,dan “rohim” yang artinya kaum kerabat,belas kasih atau menyayangi.
Silaturrahim berarti hubungan kasih sayang dengan kaum kerabat yang memiliki pertalian darah.Dalam arti luas silaturrahim berarti pula hubungan kasih sayang antara sesama mukmin,karena pada hakikatnya sesama mukmin itu adalah saudara.Sebagaimana diungkapkan dalam al Quran surah Al Hujurat ayat 10 yang artinya,“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (mukminin) adalah saudara.”.

Hikmah Silaturrahim

Diantara hikmah dianjurkannya bersilaturrahim antara lain :

1.Sebagai perwujudan bahwa seseorang itu beriman kepada Allah,sesuai dengan sabda Rasulullah,yang artinya,“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah melakukan silaturrahim.”

2.Untuk melapangkan rizki dan memanjangkan umur,sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan Bukhari Muslim sebagai berikut :
Barangsiapa menghendaki dilapangkan rizki dan dipanjangkan umur hendaklah bersilaturrahim.”

3.Dapat menghindarkan diri dari sulitnya masuk syurga.
“Tidak masuk syurga orang yang memutuskan yaitu memutuskan silaturrahim.” (HR.Muslim)

4.Sebagai sarana menciptakan perdamaian dan kerukunan,karena sesama muslim tidak boleh berseteru melebihi tiga hari tiga malam.Sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim,yang artinya :
“Tidak halal bagi seseorang muslim tidak berdamai dengan saudaranya melebihi tiga malam.”

5. Sebagai sarana untuk menghapus dosa sesama manusia.”Tidaklah bagi dua orang yang saling bertemu kemudian saling bersalaman (meminta maaf) kecuali mereka langsung diampuni sebelum mereka berpisah.”(HR.Abu Dawud dan Tirmidzi)

Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

Wallahu a’lamu bish-shawwaab……

Salam

Tinggalkan komentar

Sudahkah Bersyukur

Sudahkah bersyukur?

Bersyukur, suatu kata yang sangat berbobot dan memberikan makna
yang tidak terhingga. Allah telah menjamin dalam Al Quran, barang siapa yang bersyukur maka Allah
akan menambah nikmat kepada orang tersebut.

“Jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambah ni’mat kepada kamu dan jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azabKu amatlah pedih. (QS :Ibrahim: 7).

Hadis Nu’man bin Basyir r.a.,bahawasanya Rasulullah bersabda “barangsiapa yang tidak bersyukur dengan yang sedikit, nescaya tidak akan bersyukur kepada yang banyak; barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia,nescaya tidak akan bersyukur kepada Allah Taala.”

Arti Syukur secara mudah ialah berterima kasih dan mengenang jasa. Orang yang tak bersyukur ialah
orang yang lupa diri dan
tak mengenang jasa.

Bersyukur kepada manusia bermaksud menghargai dan
berterima kasih kepada manusia yang banyak menabur jasa dan bakti kepada kita tanpa diminta dan tanpa mengharapkan apa- apa balasan. Mereka yang dimaksudkan ialah seperti ibu-bapak kita, para guru dan Rasulullah . Disamping memuji-muji dan mengagung-agungkan jasa kebaikan mereka, kita juga dituntut agar sentiasa mendoakan kesejahteraan dan kerahmatan untuk mereka.

Cara bersyukur atau
berterima kasih atas kurnia
Allah ialah dengan jadikan
diri kita orang yang
bertaqwa, banyak
beribadah serta selalu memuji Allah dengan lisan
dan di dalam hati.

Saya yakin, Anda yang mau
membaca artikel ini adalah
orang-orang yang pandai
bersyukur. Namun bukan berarti kita tidak perlu meningkatkan.
Setinggi apa pun kita menjadi hamba yang bersyukur, kita masih tetap perlu meningkatkan syukur. Jika kita baru bersyukur saat menambatkan nikmat berupa materi, ini adalah baru tahap awal menjadi hamba yang pandai bersyukur.

Setiap saat, kita mendapatkan nikmat baru.Satu detik waktu berlalu berarti kita mendapatkan nikmat hidup selama satu detik. Nafas kita, penglihatan kita, penciuman kita, detak jantung kita dan sebagainya yang tidak mungkin disebutkan disini.Kurangnya kepekaan terhadap nikmat Allah akan mengurangi syukur kita,sebab kita merasa tidak ada yang perlu disyukuri lagi.
kita harus lebih
jeli dan peka terhadap
berbagai nikmat yang
diberikan Allah kepada kita agar bisa meningkatkan rasa syukur.

Selalu ada hikmah dari setiap kejadian, baik kejadian pada diri sendiri maupun orang lain.Sementara setiap saat selalu ada kejadian, berarti selalu ada hikmah yang bisa kita ambil. Sementara hikmah adalah suatu nikmat.
Syukurilah.
“Ahli syukur yang sejati adalah ketika ia memperoleh harta, pangkat, kedudukan, ataupun gelar, ia hanya berpikir bahwa
semuanya adalah karunia Allah yang diberikan agar ia lebih dekat kepada-Nya. Dan, ia menggunakan karunia itu dengan benar agar berbuah berkah di jalan Allah. Inilah tipe ahli syukur.” KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) Pemimpin Pondok Pesantren Darut Tauhid Bandung.
Karena kita tidak akan pernah tahu berapa lama lagi hidup di dunia ini. Maka, sekarang juga ucapkan syukur atas segala nikmat yang telah saya rasakan.Sudahkan Anda bersyukur ? Sudahkah Anda merasakan tambahan nikmat atas syukur Anda? Apakah Anda ingin mendapatkan nikmat yang lebih besar lagi? Lupakan mengeluh, mulailah perbanyak syukur.

Tinggalkan komentar

Malam Nuzulul Qur’an

Bismillahirrohmanirrohim..

Tak terasa kita sudah hampir melewati interval kedua bulan Ramadhan.Interval di mana ada satu malam yang biasanya diperingati sebagai malam nuzulul Quran.Sebagian muslim, memperingati waktu terjadinya peristiwa tersebut secara khusus dengan menggelar ceramah atau pengajian yang bertemakan Nuzulul Quran.

Secara harfiah nuzulul Quran berarti turunnya al Quran,yaitu istilah yang merujuk kepada peristiwa penting penurunan wahyu Allah pertama kepada nabi dan rasul terakhir,yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Peristiwa penting ini dijelaskan dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 185,yang kalau diterjemahkan artinya :
““(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Romadhon, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan mengenai petunjuk itu, serta pembeda (antara yang haq dengan yang batil.”.

Kaum Muslim dianjurkan untuk membaca Alquran di setiap waktu dan kesempatan. Terlebih saat bulan suci Ramadan. Membaca Alquran akan mendatangkan syafaat kelak di hari kiamat. Sebagaimana sabda Rasulullah,yang artinya “Bacalah Alquran, sesungguhnya ia datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi ahlinya (yaitu, orang yang membaca, mempelajari, dan mengamalkannya).”(HR. Muslim)

Allah menurunkan Al-Quran sebagai pedoman manusia dalam mengarungi kehidupan yang penuh aneka problema ini supaya meraih kebahagian di dunia dan akherat.sebagaimana firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang- orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS 17: 9).

Al-Quran diturunkan di saat manusia berada pada era kejahiliyahan,dimana harga kemanusiaan jatuh karena penuhanan terhadap materialisme.Naasnya,di era modern seperti sekarang dimana intelektualitas begitu menonjol gejala kejahiliyahan itu sering kita jumpai. Orang tua memperkosa anak kandungnya sendiri. Anak membantai orang tuanya. Ibu kandung membuang janin yang ia bawa selama sembilan bulan. Dan masih banyak lagi perilaku lainnya yang jauh dari kata manusiawi. Persis,keadaan semacam inilah yang terjadi pada masa jahiliyahnya kaum arab waktu itu.

Ada pertanyaan menarik dan penting untuk kita renungkan bersama dari peringatan malam nuzulul Quran ini apalagi jika dikaitkan sebagai Ramadhan bulan introspeksi diri.
Yaitu,seberapa pentingkah Al-Quran di mata kita ?
Apakah kita hanya menganggap Alquran sebagai bacaan mulia,kitab suci yang berisi kumpulan peraturan halal-haram, atau pedoman hidup kita sebagai umat Islam…??
Apakah kita sudah semakin intens membacanya,mempelajari dan menerapkan ajaran yang dikandungnya??

Jika jawabannya yaitu sebagai pedoman, lalu sejauh mana hidup kita telah “dipedomi” oleh Alquran?. Sejauh mana diri kita telah memahami Alquran, dan pemahaman itu melandasi serta mewarnai berbagai amaliyah kita?.

Wajar saja bila pertanyaan- pertanyaan tersebut muncul sebab melihat berbagai fenomena kehidupan dan perilaku umat saat ini yang semakin menjauh dari nilai-nilai moral dan etika. guna memperbaiki keadaan tersebut, mutlak diperlukan upaya untuk mengejawantahkan kembali nilai-nilai moral dan etika Alquran dalam kehidupan sehari-hari. Melalui Alquran, Allah SWT berbicara tentang kaidah-kaidah keadilan, perdamaian, dan kebenaran. Selain itu, Dia juga berbicara tentang persoalan-persoalan mu’amalah dan pandangan hidup. Sehinggga solusi dari berbagai problem yang kita hadapi sehari-hari dapat ditemukan di dalam Alquran.

Kita tak dapat memungkiri bahwa Al-Quran merupakan pedoman bagi kita agar menempuh jalan lurus guna menghindarkan diri dari kesesatan dunia demi meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akherat.
Semoga kita semua diberi kemampuan untuk senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai Alquran.

(dari berbagai sumber)

Tinggalkan komentar

Amalan Sedekah Jariyah

Sedekah jariyah adalah satu istilah yang pernah disebutkan oleh Nabi Muhammad Shalla Allahu alaihi wa sallama dalam satu hadits diriwayatkan
dari Abu Hurairah
Radhiyallahu’anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda :
Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan
terputus amalannya kecuali
tiga perkara :
1. Shadaqoh jariyah
2. Ilmu yang bermanfaat,
3. Anak shalih yang
mendoakan kepadanya.

Sedekah jariyah oleh para ulama diartikan sebagai harta wakaf atau kebaikan.Sedangkan sedekah lainnya seperti memberi makanan kepada fakir miskin atau anak yatim meskipun pahalanya besar dan termasuk amalan yang mulia tidak disebut sebagai sedekah jariyah.Namun ikut memberikan sumbangsih dalam membangun sarana atau tempat pembinaan bagi fakir miskin dan anak yatim merupakan suatu amal jariyah yang pahalanya tidak putus dan terus mengalir selama tempat itu masih memberi manfaat.

Diantara contoh sedekah jariyah lainnya adalah ikut membangun masjid, madrasah,atau pesantren.Menyumbangkan kursi roda ke rumah sakit dan setiap orang sakit menggunakannya kita mendapat kebaikan.
Berbagi bahan bacaan yang
membangun dengan
seseorang.
Mengajari seseorang sebuah
do’a. Pada setiap bacaan
do’a itu,kita dapat
hasanah/kebaikan.
Mewakafkan mushaf/Al Quran.
Membuat sumur atau sumber air.
Menanam pohon,sehingga jika seseorang atau
binatang berlindung di
bawahnya, juga dapat pahala/hasanah/kebaikan.
Menyebarkan ilmu ini
kepada orang lain. Jika orang yg mendpt pesan ini
menjalankan salah satu dari
yang di atas,Insya Allah akan dapat hasanah/kebaikan sampai hari Qiamat.

Segala amalan yg kita perbuat
amal baik ataupun amal buruk semua akan terpulang kepada kita.secantik
ataupun setampan mana
seseorang itu jikalau hatinya
jauh disisi Allah maka tidak
bermakna baginya.Sebab,Allah hanya melihat kepada hati dan amalan yang kita perbuat.Bukan pada ketampanan,kecantikan atau harta yang dimiliki seseorang.berbicara soal harta yg kini ada
dalam genggaman kita dan
kerapkali membuat kita lalai dan alpa.Sungguh semua harta itu datang dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dgn sepenuh keikhlasan semata-mata krn Allah dan mengharap Ridho-Nya.

Semoga bermanfaat..

Wallahu a’lamu bish-shawwaab……

**Tiga (3) Amalan Anak Adam yang tidak Terputus setelah mati

**Ilmu Yang Manfaat.

Tinggalkan komentar

Selamat Makan Selamat Berzikir

Makan adalah kegiatan memasukkan makanan atau sesuatu ke dalam mulut untuk menyediakan nutrisi bagi binatang dan makhluk hidup, dan juga energi untuk bergerak serta pertumbuhan, yaitu
dengan memakan organisme. Makhluk karnivora memakan binatang, makhluk herbivora memakan tumbuhan, sedangkan omnivora memakan keduanya.(Wikipedia).

Berbicara masalah makan menurut penelitian selain tidak boleh tergesa-gesa, jumlah kunyahannya pun setiap suapan sebaiknya 36 kali. Selain membantu meringankan kerja system pencernaan, yang menariknya lagi frekuensi pengunyahan yang banyak ini akan merangsang sinyal rasa kenyang dari susunan saraf pusat atau otak. Jadi, kita pun lebih mudah merasa kenyang dan tidak akan terlalu banyak dalam mengkonsumsi makanan.

Makan tidak saja dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan
biologis dan kebutuhan
kenikmatan dunia semata, tetapi juga sebagai sarana ibadah.Makan haruslah diniatkan untuk menjaga
ketaatan yaitu berharap bahwa dengan makan akan menjaga tetap konsisten menjadi orang yang takwa.Dengan niat ibadah itu berarti kita bisa mengurangi semangat nafsu kebinatangan dan membawa pada sikap totalitas kerelaan terhadap rezeki yang diberikan Allah kepada kita (qana’ah).Semua amal perbuatan itu akan bermuara kepada niat,anjuran mengenai niat ini sesuai dengan hadist Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Sesungguhnya amal-amal
perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan bagi setiap orang adalah apa yang ia niatkan”. (HR.Bukhari)
.

Kita juga dianjurkan untuk tidak tergesa-gesa saat makan dan mengambil secukupnya sehingga dapat di konsumsi habis, jangan tersisa sedikit pun,walau hanya berupa sebutir nasi yang menempel di jari tangan umpamanya, karena hal itu menjadi bentuk pemubaziran yang dilarang. Dari Jabir katanya,Rasulullah SAW menyuruh membersihkan sisa makanan yang di piring maupun yang di jari seraya bersabda: “Sesungguhnya kalian tiada mengetahui di bagian manakah makananmu yang mengandung berkah”.(HR. Muslim).

Rasulullah SAW menegaskan bahwa penyakit itu banyak bersumber dari makanan. Karena itu kita harus mengatur isi perut kita agar tidak seluruhnya terisi makanan.Seperti dinyatakan dalam sebuah hadist,Tidak ada suatu tempat yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya.Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap makanan saja,asal dapat menegakkan tulang rusuknya. Tetapi bila ia terpaksa melakukannya, maka hendaklah sepertiga ( dari perutnya itu) diisi dengan makanan,sepertiganya dengan minuman dan sepertiganya lagi dengan nafasnya (udara, dikosongkan)”(HR. Imam Ahmad dan Turmudzi).Jika kita menela’ah lagi tentang makanan, dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman, “Maka
hendaklah manusia itu
memperhatikan makanannya”.
(QS. ‘Abasa, 80 : 24).

Sebenarnya banyak sekali hal yang dapat kita perhatikan dari makan. Tapi mari mulai dari mana datangnya makanan itu di hadapan kita?.Katakanlah di hadapan kita ada nasi,lha berarti ada yang menanak nasi, sebelum itu pastilah berupa beras yang berarti ada yang menjualnya,sebelumnya ada yang memanen, menanam, kemudian tidaklah
mungkin jika tidak ada air,
berarti Allah harus menciptakan hujan, tidaklah mungkin jika tidak ada awan dan tidaklah mungkin jika tidak ada angin, angin terjadi karena dataran tinggi dan dataran rendah, belum faktor matahari tidaklah mungkin padi menguning jika tidak ada matahari, belum lagi faktor biji-bijian, faktor tanah, jika Allah tidak membelah tanah apa yang terjadi dan sebagainya-dan
sebagainya. Prosesnya sangatlah rumit dan kompleks.
Subhanallah..! Sudah sepatutnya kita bersyukur jika ada makanan di hadapan kita,karena prosesnya yang panjang seringkali kita lupa
bersyukur kepada Allah, malahan mencela makanan dengan mengatakan “Nggak enak,makanan apaan ini?”,atau celaan lain.Padahal,ramuan terlalu asin atau tidak,terlalu manis atau pedas itu salahnya yang memasak.Kenapa makanannya yang dicela??
Apa pun yang dihidangkan di
depan mata kita, makanan
merupakan rezeki dari Allah. Dari Abu Hurairah, ia berkata:”Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan selamanya. Jika beliau suka dimakannya, dan jika tidak suka ditinggalkannya”.(HR.Bukhari dan Muslim).

Satu hal lagimakanan yang kita makan itu tidaklah akan masuk ke perut jika tidak ada gaya gravitasi bumi, artinya tatanan
dan keteraturan langit yang
menyebabkan gaya gravitasipun
Allah atur hanya sekedar untuk kepentingan kita makan. Dan
dalam (QS. Al Jaatsiyah, 45 : 13),
“Dan Dia telah menundukan
untukmu apa yang ada di langit
dan apa yang di bumi semuanya,
(sebagai rahmat) dari padaNYA. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi kaum
yang berfikir”.
Subhanallah. Bagi kaum yang “berfikir.” Atau tafakkarun
artinya bertafakur. Mari kita
tafakuri, dengan makanpun kita bisa berdzikir dalam artian menghadirkan Allah ke dalam benak, agar kita bisa bersyukur dan bertaqorub atau lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Karena itu tidaklah
mengherankan jika kita akan
makan hendaklah kita berdoa; “Ya Allah, berilah berkah dari rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan jauhkanlah kami dari siksa neraka”.

Inilah kesempurnaan agama Islam,
tata cara makan pun secara
detail dari mulai hakikatnya,
menanam hingga memanennya,
adab & tata caranya, bentuk, rasa dan jenisnya, seluruhnya telah diatur rapih oleh Allah dan RasulNYA. Inilah “diin” atau tata cara kita melakukan keseharian secara selamat sekaligus berserah diri kepada aturan Allah SWT, karena hanya berserah diri kepada Allahlah kita bisa selamat.
Totalitas ketaatan dan
kepatuhan terhadap ajaran yang disandarkan pada prinsip wahyu
akan sangat berpengaruh
terhadap kesejahteraan di dunia dan keindahan diakhirat kelak..

“Alhamdulillaahilladzi
att’amanaa wasaqaanaa waja’alana minal muslimiin” “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami
makan dan minum, serta
menjadikan kami sebagai orang muslim”

Selamat makan, selamat
berdzikir, dan selamat
bersyukur…..
Semoga tulisan ini bermanfaat, dan menjadi amalan yang baik bagi kita semua, Amin Ya Rabbal
alamin.

*berbagai sumber*
SukananyA

Tinggalkan komentar

Dengki dan Dendam

Dalam Al-Quran Allah berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada
sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. (An-Nisa: 32).

Dendam dalam bahasa Arab disebut hiqid, ialah “Mengandung permusuhan didalam batin dan menanti-nanti waktu yang terbaik untuk melepaskan dendamnya,menunggu kesempatan yang tepat untuk membalas sakit hati dengan mencelakakan orang yang di dendami”.

Berbahagialah orang yang berlapang dada,berjiwa besar dan pema ‘af. Tidak ada sesuatu yang menyenangkan dan menyegarkan pandangan
mata seseorang, kecuali hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, bebas dari rasa kebingungan dan bebas dari rasa dendam yang senantiasa menggoda manusia.

Seseorang yang hatinya bersih dan jiwanya sehat, ialah mereka yang apabila melihat sesuatu nikmat yang diperoleh orang lain,ia merasa senang dan merasakan karunia itu ada pula pada dirinya. Dan apabila ia melihat musibah yang menimpa seseorang hamba Allah,ia merasakan sedihnya dan mengharapkan kepada Allah untuk meringankan penderitaan
dan mengampuni dosanya.

Demikianlah seorang muslim, hendaknya selalu hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang
sehat, rela terhadap ketentuan Allah dan terhadap kehidupan.
Jiwanya bebas dari perasaan dengki dan dendam. Karena perasaan dengki dan dendam
itu merupakan penyakit hati,yang dapat merembeskan iman keluar dari hati,sebagaimana merembesnya zat cair dari
wadah yang bocor. Islam sangat memperhatikan kebersihan hati karena hati yang penuh dengan noda-noda kotoran itu,dapat merusak amal sholeh,bahkan
menghancurkannya. Sedang hati yang bersih, jernih dan bersinar itu dapat menyuburkan amal dan dorongan semangat untuk
meningkatkan amal ibadah, dan Allah memberkahi dan
memberikan segala kebaikan
kepada orang yang hatinya bersih. Oleh karena itu,jamaah muslimin yang sebenarnya,hendaknya jamaah yang terdiri dari orang-orang yang bersih
jiwanya dan sehat hatinya,
yang terdiri di atas saling cinta mencintai, saling kasih
mengasihi,sayangmenyayangi,yang merata, di atas pergaulan
yang baik dan kerjasama yang saling menguntungkan timbal balik, di dalamnya tidak ada seorang yang untung sendiri,bahkan golongan yang semacam
ini, sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an yang artinya:
“Yang orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa ‘Ya
Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang
beriman, Ya Tuhan kami,
sesungguhnya Engkau maha
penyantun lagi maha
penyayang”. (Al-Hasyr: 10).

Apabila rasa permusuhan telah tumbuh dengan suburnya,sampai berakar, dapat mengakibatkan hilangnya rasa kasih sayang dan hilangnya kasih sayang dapat mengakibatkan rusaknya perdamaian. Dan jika sudah sampai demikian, maka dapat menghilangkan keseimbangan yang pada mulanya menjurus kearah perbuatan dosa-dosa
kecil, dan akhirnya dapat mengarah kepada dosa-dosa besar yang mengakibatkan turunnya kutukan Allah.

Perasaan iri hati karena orang lain memperoleh nikmat kadangkala dapat menimbulkan khayalan yang bukan-bukan sampai membuat-buat kedustaan. Islam membenci perbuatan demikian dan memperingatkan jangan sampai
terjerumus kedalamnya. Mencegah adanya ketegangan dan permusuhan, menurut Islam
merupakan ibadah yang besar,
sebagaimana sabda Nabi saw
yang artinya: “Maukah aku
beritahukan kepadamu perkara yang lebih utama dari puasa,
shalat dan shadaqoh?, Jawab
sahabat: “Tentu mau”. Sabda
Nabi saw: “yaitu mendamaikan di
antara kamu, karena rusaknya
perdamaian di antara kamu adalah menjadi pencukur yakni perusak agama”. (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

Syaitan kadangkala tidak mampu menggoda orang-orang pandai untuk menyembah berhala, tetapi syaitan sering juga
mampu menggoda dan
menyesatkan manusia, melalui celah-celah pergaulan dengan
cara merusak perdamaian
diantara mereka itu sendiri, sehingga dengan hawa nafsunya yang tidak terkendalikan,mereka tersesat dan tidak
mengetahui hak-hak Tuhannya,bagaikan menyembah berhala. Di
sinilah syaitan mulai menyalakan api permusuhan di hati manusia
dan jika api permusuhan itu
telah menyala, ia senang melihat api itu membakar manusia dari zaman ke zaman, sehingga
turut terbakarnya hubungan dan segi-segi keutamaan
manusia. Kita harus mengetahui
bahwa manusia itu berbeda-
beda tabiat dan wataknya,
berbeda-beda kecerdasan akal dan daya tangkapnya. Karena itu dalam pergaulan dan pertemuan di lapangan
kehidupan, kadangkala mereka membuat kesempatan yang
mengakibatkan perselisihan dan permusuhan. Maka Islam telah memberikan cara
penanggulangan mensyari’atkan
penepatan akhlak yang baik,yang membuat hati mereka luluh dan sarat berpegang kepada kasih sayang. Dan Islam melarang memutuskan hubungan dan berbantah-bantahan.

Memang kita sering merasakan seolah-olah
kejelekan itu dilemparkan
kepada kita, sehingga kita sering tidak mampu
mengendalikan perasaan dan kejengkelan kita, yang apabila fikiran kita sempit, maka timbullah niat untuk
memutuskan hubungan dengan si pemeluknya. Tetapi Allah tidak rela perbuatan yang demikian.
Memutuskan hubungan sesama muslim dilarang, sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya:
“Janganlah kamu putus hubungan, belakang
membelakangi, benci membenci,hasut menghasut. Hendaknya kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara satu sama yang lain (yang muslim) dan tidaklah halal bagi (setiap) muslim mendiamkan
saudaranya lebih dari tiga hari”.(HR. Bukhori danMuslim).

Dalam hadits ini dinyatakan batas tiga
hari, karena pada waktu tiga
hari kemarahan sudah bisa reda, setelah itu wajib bagi
seorang muslim, untuk
menyambung kembali hubungan
tali persaudaraannya dengan
saudara-saudaranya sesama
muslim, dan membiasakan perilaku yang utama ini. Karena putusnya tali persaudaraan ini tak ubahnya seperti awan
hitam atau mendung apabila
telah di hembus angin, maka
hilanglah mendungnya dan cuacapun menjadi bersih dan
terang kembali. Ringkasnya,
hendaknya orang-orang yang
mempunyai penyakit hati,
seperti rasa dendam, iri hati,
dan dengki selalu ingat bahwa kekuasaan Allah mengatasi
segala kekuasaan. Dan
hendaklah ia ingat, bahwa harta
benda dan kedudukan yang
bersifat duniawi itu selamanya
tidak kekal. Paling jauh dan lama, sepanjang hidupnya saja,
bahkan mungkin sebelum itu.
Dalam Al-Quran Allah berfirman
yang artinya: “Dan janganlah
kamu iri hati terhadap apa yang
di karuniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. (An-Nisa: 32)

sumber=http:// http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&view=article&id=958:dengki-dan-dendam&catid=6:buletin-jumat

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.